Ekonomi & Bisnis

Properti SOHO Makin Seksi, Ini Strategi Intiland

MR-101 | Jumat, 12 Agustus 2016 - 18:10:27 WIB | dibaca: 121 pembaca

SURABAYA – Properti small office home office (SOHO) kini menjadi bidikan para pengembang. Banyak pengembang yang memilih membangun properti dengan memadukan konsep hunian dan usaha dalam satu unit.

Intiland salah satunya. Salah satu pengembang papan atas Indonesia itu mengembangkan SOHO di kawasan perumahan landed house.

Direktur Marketing PT Intiland Grande Harto Laksono menyatakan, SOHO yang dibangun tersebut berada di kawasan perumahan yang ke depan dikembangkan menjadi area yang dirancang secara terpadu dan terintegrasi.

Pengembangan properti komersial, termasuk SOHO, diproyeksikan sekitar 20 persen dari pengembangan kawasan atau sekitar 16 hektare di antara total 80 hektare.

Agar membedakan dengan SOHO yang sudah ada, Intiland membuat yang fleksibel.

”Sebab, selain sebagai tempat tinggal, SOHO merupakan tempat usaha. Tapi, kalau sekarang pemiliknya belum memiliki rencana mengenai usaha yang dikembangkan, dia bisa menyewakan lantai bawah sebagai tempat usaha,’’ paparnya kemarin (10/8).

Jadi, SOHO dua lantai tersebut dirancang memiliki dua fasad. Kalau dari pintu masuk, bagian depan diperuntukkan usaha. Bagian belakang diperuntukkan tempat tinggal.

Jenis usaha yang bisa dikembangkan beragam. Terutama yang sesuai dengan kebutuhan market di kawasan superblok.

’’Bahkan, kami menawarkan SOHO itu untuk disewa dalam jangka waktu lima tahun. Sambil menunggu pasar terbentuk, pemilik mendapatkan tambahan income dari sewa. Karena terletak di kawasan perumahan, potensi pengembangan bisnis pendidikan dan kebutuhan jasa bisa terkait,’’ terangnya.

SOHO tahap satu yang terdiri atas 30 unit memasuki tahap pembangunan dan selesai pada akhir 2017. SOHO yang diluncurkan awal tahun tersebut habis terjual dalam enam bulan.

Kemudian, SOHO tahap dua dipasarkan dengan luas yang sedikit lebih besar. Tingginya permintaan membuat pihaknya optimistis SOHO tahap dua habis terjual sebelum akhir tahun.

Pihaknya memiliki beberapa proyek lain. Misalnya, Graha Golf yang tersisa 12 persen di antara total unit, The Rosebay yang tersisa 50 persen di antara total 177 unit, Praxis 35 persen di antara 300 unit. Selain hunian, ada office.

’’Apalagi, dalam momen tax amnesty, konsumen memerlukan informasi tambahan sebelum memutuskan penggunaan dana yang dimiliki. Kami memperkirakan pembelian properti ramai pada September–Oktober. Sebab, mereka tidak mau melewatkan tarif tebusan dua persen,’’ tuturnya.

Kemudian, karena adanya kelebihan dana itu, pihaknya mempertimbangkan bagi pembeli yang membeli secara tunai keras. Selama ini pembeli tunai keras hanya mencapai 5–7 persen.

Dia yakin, dengan adanya tax amnesty, permintaan naik dua kali lipat. ’’Karena itu, kami menyiapkan fasilitas diskon bagi mereka yang membeli tunai keras,’’ tambahnya. (res/jos/jpnn)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)