Opini

Realisme Melawan Skeptisisme (Suatu Refleksi Kebangsaan)

MR-101 | Minggu, 24 September 2017 - 23:26:08 WIB | dibaca: 165 pembaca

Oleh : Ruben Frangky Darwin Oratmangun (Sekfung KHI PP GMKI Masa Bakti 2016-2018)

AMBON, MR.- Dewasa ini perhatian masyarakat terlalu sering terfokus pada persoalan yang berkenaan dengan apa yang lazim disebut "fundamentalis" atau "revisionis" awam, fokus kepada figur-figur pemimpin daerah dan gerakan atau tindakan yang didasarkan pada reaksi emosional dan sentimental dalam melawan keburukan dan kezaliman yang melanda seluruh dunia, termasuk Indonesia, negeri yang kita cintai.

Amat jarang perhatian diberikan atas respon intelektual yang muncul dari tempat-tempat tertentu terhadap tantangan-tantangan global dan modernisme, dan berusaha memberikan jawaban yang rasional dan objektif bukan dengan semata-mata memekikan slogan-slogan tetapi dengan menggali kekayaan tradisi intelektual kita dan menggunakan logika dan nalar yang dianugerahi Sang pencipta.

Muncul berbagai pertanyaan-pertanyaan dari segelintir orang yang menjadi simbol kegelisahan dan keraguan ditengah masyarakat yang menyatakan bahwa kita sedang berada pada miniatur politik yang seakan-seakan menjadikan kita sebagai kaki bangunan dan mereka sebagai menaranya, telah memberikan kritik yang tajam terhadap "Eksekutif-Birokratif" dan "Legislatif-Yudikatif" yang di dasarkan pada prinsip-prinsip "realisme" yang tak lain adalah pertumbuhan dan kesinambungan masyarakat transenden. Masyarakat yang merupakan kaum rasionalis meletakkan dasar (foundation) kebangkitannya, memulainya dengan badai skeptisismenya. Mereka berpikir bahwa karena gagasan-gagasan yang saling berlawanan dan tidak berhubungan (in-corelation), maka gagasan itu merupakan ajang kesalahan (mistake). Sementara itu persepsi inderawi pun sering menipu dan menimbulkan turbulensi; karena itu tak perlu diperhitungkan.

Dengan dua pertimbangan ini, skeptisisme pun muncul dan menumbangkan dunia material dan spritual sekaligus inderawi manusia yang berimplikasi negatif pada tatanan hidup masyarakat madani. Keniscayaan hidup yang mutlak (absolute) menunjukan adanya logika dan fakta bahwa masyarakat mungkin saja berada dalam cengkeraman kekuatan yang menguasai eksistensi dan pikirannya, dan berusaha memanipulasi dan menyesatkannya. Cengkeraman itulah yang mengilhami masyarakat dengan gagasan-gagasan yang tidak berhubungan dengan realitas, dan dengan persepsi-persepsi yang salah atau keliru.

Bagaimanapun jelasnya gagasan dan persepsi itu, kita tidak akan dapat menghindari asumsi tersebut yang mengharuskan kita mengambil skeptisisme sebagai suatu doktrin yang sifatnya abadi. Kecuali kebenaran yang tidak dapat diguncangkan badai skeptisisme, yaitu pikirannya yang adalah realitas aktual yang tidak dapat diragukan lagi. Keraguan tidak mempengaruhi corak pikiran kita, kecuali meperkuat stabilitas dan kejelasannya. Karena, keraguan tidak lain adalah corak pikiran kita sendiri.

Realitas menekankan pentingnya logika, perlunya kausalitas dan pemikiran filosofis yang tangguh sehingga mampu memerangi kekuatan-kekuatan sekular dan pragmatis, meskipun kita telah dirundung kejadian-kejadian selama beberapa tahun belakangan ini, yang miris, menciderai dan membelenggu hidup kita. Tetap optimis, perbanyak intuisi untuk melawan skeptisisme di negeri ini, agar ada keberpihakan dan kebajikan yang tepat, sangat dibutuhkan pemikiran yang jelas dan terang, penuh kesadaran. (*)










Komentar Via Website : 2
Obat Sinusitis Di Apotik
29 September 2017 - 14:46:25 WIB
Obat Sinusitis Di Apotik >> http://goo.gl/it1NQY
Walatra Gamat Emas Kapsul
09 Oktober 2017 - 08:25:41 WIB
AwalKembali 1 LanjutAkhir


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)