Amboina

Sidak Distributor, Komisi II Dan Mitra Temukan Barang Kadaluarsa

MR-101 | Rabu, 07 Juni 2017 - 01:08:48 WIB | dibaca: 193 pembaca

Mourits Tamaela , Ketua Fraksi NasDem DPRD Kota Ambon

AMBON,MR.- Komisi II DPRD kota Ambon bersama mitra terkait yakni Disperindag, BPOM dan Dinkes kota Ambon melakukan inspeksi mendadak (Sidak) di beberapa perusahaan atau distributor barang-barang dan makanan guna menelusuri fakta beredarnya barang kadaluarsa.
Alhasil, hasil sidak menunjukkan adanya sejumlah temuan barang atau produk kadaluarsa yang masih disimpan dan diperdagangkan. Ditemukan pada FA Murni Utama dan CV Sinar Mandiri.
"Jadi tadi pagi (kemarin-red) kami bersama BPOM,Disperindag dan Dinkes kota Ambon melakukan Sidak ke sejumlah distributor besar yang dianggap memiliki benefit tinggi di kota Ambon. Hasilnya, terdapat temuan yang kami anggap ada keganjalan dalam sisi aturan yakni masih memiliki barang expire,"tandas anggota komisi II, Mourits Tamaela kepada wartawan di Balai Rakyat Belakang Soya, Selasa (6/6). 
Dikatakan, temuan produk kadaluarsa pada CV Sinar Mandiri yang berlokasi di Aster Tantui berupa jenis minuman beralkohol ringan yaitu, Bir Anker.
Bukan itu saja, terdapat juga produk susu bermerek Nestle yang barangnya belum dimusnahkan. 
Anehnya lagi, kata ketua fraksi NasDem ini, ada pula barang kadaluarsa yang sudah dipindahkan tetapi sebagiannya masih digabung pada tumpukan barang-barang yang siap diedarkan. 
"Untuk sampelnya sudah kami sita dan diserahkan ke BPOM dan Dinkes guna menindaklanjuti melalui penelitian. Pada prinsipnya yang kami temukan adalah pelanggaran. Dimana terjadinya kesalahan prosedur pelaporan atau prosedur pengamanan makanan atau barang kadaluarsa,"tegas Tamaela. 
Tidak jauh berbeda dengan Sinar Mandiri, pada toko Murni Utama menurut Tamaela juga ditemukan ratusan kaleng minuman Bir yang sudah kadaluarsa dari tahun 2016, tidak dipindahkan atau dimusnahkan tetapi masih disimpan. 
Semua ini nilai Tamaela ada kelemahan dari mitra kerja yakni pengawas. Manakala, komisi tidak mendapatkan keterangan terkait pelaporan ketika mendapati barang kadaluarsa,
"Bukti dokumentasinya lengkap sudah kami ambil untuk temuan. Sebagai catatan bagi pengawas, harusnya dilaporkan kepada instansi berkepentingan dalam hal ini BPOM, Disperindag atau Dinkes jika ada distributor penyedia barang kadaluarsa. Komisi juga tidak pernah mendapat laporan,"kesalnya.
Adanya pelaporan yang rutin diungkapkan Tamaela maka mekanisme pengawasan dari sejumlah pihak bisa terkontrol. 
Terbukti, dari pengawasan yang komisi lakukan baru ditemukan ada kesalahan. Parahnya, tidak ada satu rektur atau dokumen yang dapat dibuktikan menyangkut metode karantina dari produk-produk atau barang yang sudah kadaluarsa.
"Atas kejadian ini, komisi sangat menyesalkan masih beredarnya barang kadaluarsa. Apalagi ini distributor besar yang mengatur pasokan kebutuhan masyarakat di Maluku khususnya kota Ambon di bulan puasa dan menjelang lebaran,"ujarnya.
"Bayangkan barang itu bukan dalam kebutuhan harian yang bisa diketahui, tetapi bisa membludak. Dalam posisi itu, pasti distribusinya akan kurang terurus, tidak bisa terkontrol dengan baik bahkan terindikasi dapat dikonsumsi langsung. Ini berbahaya dan perlu diantisipasi,"sambunganya.
Tindakan pengawasan ini ditambahkan Tamaela dalam rangka mengawasi peredaran produk makanan, minuman serta kebutuhan pokok masyarakat di bulan suci ramadhan ini dan memasuki hari raya idul fitri. Pasalnya,masyarakat yang menjadi konsumen akan dirugikan kalau tidak ada tindakan preventif.
Dengan demikian, sebagai anggota komisi meminta Disperindag dan BPOM memberikan sanksi tegas kepada distributor yang dengan sengaja melakukan indikasi pelanggaran tersebut.
"Entah itu sengaja atau tidak, tetapi yang jelas merupakan temuan dan menyalahi ketentuan aturan. 
Komisi akan tindaklanjut dengan agendakan dalam waktu dekat memanggil para pihak distributor atau perusahaan maupun instansi pengawas,"pungkas mantan wartawan ini. (MR-07) 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)