
Gelar pahlawan pasca kemerdekaan perlu kita maknai secara kontekstual ketika kita memperingati hari pahlawan setiap tanggal 10 November. Dengan situasi yang damai, dimana semua profesi bekerja membangun negara mengisi kemerdekaan, mitos kepahlawanan yang sepertinya hanya milik profesi tertentu, perlu ditinjau ulang.
Dalam situasi perang fisik, mudah untuk melabelkan pahlawan kepada seseorang, karena perjuangannya terlihat jelas dalam peperangan. Namun, di eranya Gen-Z dan Generasi Stroberi ini, memaknai siapa yang layak disebut pahlawan menjadi semakin relevan. Menceritakan perang kemerdekaan kepada Generasi Stroberi ini sama seperti orang tua menceritakan perjuangannya dari kesusahan waktu kecil sampai mencapai kondisi keluarga saat ini. Tidak masuk di akal mereka. Hal itu dianggap hanya kondisi masa lalu yang harus dihadapi oleh siapa pun di zaman itu.
Pahlawan : Lebih dari Sekadar Medan Perang
Secara tradisional, gelar pahlawan sering kali diberikan kepada mereka yang berjuang di medan perang. Mereka yang mengorbankan nyawa melawan penjajah, baik sebagai tentara atau pejuang sipil disebut pahlawan. Namun, sebutan untuk pahlawan pasca kemerdekaan ini perlu dimaknai ulang. Kini, kepahlawanan tidak hanya berbicara tentang pertarungan senjata atau pertempuran fisik. Kepahlawan mencakup pengorbanan dan dedikasi dalam berbagai bidang kehidupan yang memiliki dampak signifikan bagi masyarakat.
Pertanyaan muncul, apakah hanya pejabat negara yang layak diberi gelar pahlawan, dan karenanya hanya mereka yang dimakamkan di taman makam pahlawan? Apakah seorang pejabat atau jenderal yang digaji oleh negara lebih layak disebut pahlawan daripada petani yang bekerja keras menghasilkan pangan bagi bangsa? Apakah petugas kebersihan yang menjaga kebersihan lingkungan dengan upah minimum layak masuk taman makam pahlawan? Dalam dunia modern ini, kepahlawanan tidak bisa lagi diukur hanya dari status pekerjaan atau besarnya risiko yang dihadapi. Kepahlawanan harus dilihat dari nilai kontribusi seseorang terhadap kemaslahatan bersama dan integritasnya dalam menjalankan tugas.
Pahlawan Pasca Kemerdekaan
Setelah perang fisik selesai, maka tugas negara adalah memasuki gerbang emas untuk menyejahterakan kehidupan warganya. Untuk menciptakan kesejahteraan warga negara seperti amanat dalam pembukaan UUD NRI 1945, semua profesi berpartisipasi. Dengan demikian, semua profesi berhak disebut sebagai pahlawan, entah itu petani, buruh, guru, tenaga kesehatan, pun petugas kebersihan.
1. Petani dan Buruh: Pahlawan yang Terlupakan
Petani adalah tulang punggung perekonomian bangsa. Mereka “memberikan makan” seluruh warga negara, dengan memastikan ketahanan pangan Indonesia dengan bekerja keras di ladang dan sawah. Meskipun kerja mereka tidak disorot media atau diakui secara resmi sebagai “kepahlawanan,” kontribusi mereka terhadap bangsa sangatlah besar. Petani mungkin tidak membawa senjata, tetapi mereka menghadapi tantangan besar, seperti ketidakpastian cuaca, harga jual yang fluktuatif, hingga ancaman alih fungsi lahan. Demikian pula, para buruh yang bekerja keras di berbagai sektor—dari perindustrian hingga jasa—berperan besar dalam menopang ekonomi negara. Mereka mungkin tidak dianggap sebagai pahlawan dalam pengertian tradisional, tetapi tanpa mereka, kesejahteraan dan keberlanjutan masyarakat akan terganggu. Maka petani dan buruh adalah pahlawan di era pasca kemerdekaan ini.
2. Guru dan Tenaga Pendidikan: Pilar Masa Depan Bangsa
Guru adalah sosok yang kerap disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka berjuang mendidik generasi muda tanpa mengharapkan penghargaan atau imbalan besar. Mereka mengajarkan nilai-nilai kehidupan, ilmu pengetahuan, serta keterampilan yang akan membentuk masa depan bangsa. Di tengah tantangan besar seperti rendahnya gaji, minimnya fasilitas, hingga tantangan dalam sistem pendidikan yang kompleks, para guru tetap berkomitmen untuk membimbing murid-murid mereka. Kepahlawanan mereka tidak selalu tampak nyata, tetapi dampaknya sangat mendalam dan bertahan lama.
3. Tenaga Kesehatan: Garda Terdepan Kesehatan Bangsa
Pandemi COVID-19 memberikan contoh nyata tentang kepahlawanan dalam profesi kesehatan. Dokter, perawat, dan tenaga medis lainnya rela mempertaruhkan nyawa mereka untuk menyelamatkan pasien di tengah ancaman virus yang mematikan. Mereka tidak hanya berjuang untuk menyembuhkan orang sakit tetapi juga untuk melindungi masyarakat dari wabah yang dapat meluas. Pengorbanan mereka di masa pandemi telah membuka mata dunia bahwa kepahlawanan bisa ditemukan dalam profesi yang mengabdikan diri bagi kesehatan masyarakat.
4. Petugas Kebersihan: Menjaga Kesehatan Lingkungan
Di era modern ini, walaupun petugas kebersihan menjadikan semua jalanan dan perumahan jadi bersih, namun mereka sering kali dianggap remeh. Mereka bekerja dalam kondisi yang tidak selalu nyaman. Mereka harus rela mengeruk kotak sampah perumahan, berdamai dengan aroma sampah. Peran mereka sangat vital dalam menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan. Setiap pagi, para petugas kebersihan menyapu jalanan, membersihkan sampah, dan memastikan fasilitas umum tetap bersih. Jika dilihat lebih dekat, tindakan mereka merupakan bentuk kepahlawanan modern yang turut menciptakan lingkungan sehat bagi masyarakat luas. Meskipun penghasilan mereka kerap kali rendah dan profesi mereka jarang dihargai, mereka tetap menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab.
Pahlawan Pasca Kemerdekaan : Berdasarkan Pengabdian, Bukan Status
Perjuangan di zaman ini tidak lagi perang dengan moncong senjata. Ada yang berjuang menyelamatkan bumi dari perusakan alam akibat pengerukan hasil tambang. Sebagian lagi berjuang menyelamatkan hutan, memperjuangkan kebebasan berekspresi, kebebasan beragama dan keadilan dalam negara demokrasi. Tak jarang para pejuang ini harus menghadapi ancaman, penahanan, bahkan dihadapkan dimuka pengadilan, persis seperti pejuang kemerdekaan Indonesia. Para pejuang ini rela dipasung kebebasannya di penjara, bahkan ada yang harus mati diracun seperti yang dialami almarhum Munir.
Dalam masyarakat yang terus berkembang, perlu disadari bahwa kepahlawanan tidak terikat pada satu bentuk peran atau status. Mereka yang bekerja untuk orang lain, yang dengan tulus berupaya memperbaiki kehidupan masyarakat dan melindungi hak-hak dasar manusia, adalah pahlawan modern. Meskipun tidak semua profesi menawarkan risiko tinggi seperti yang dihadapi tentara, banyak pekerjaan yang menuntut pengorbanan dan ketulusan yang sama.
Di sisi lain, pejabat negara, meski digaji oleh negara, dapat tetap disebut sebagai pahlawan jika mereka menjalankan tugas dengan integritas, mengutamakan kesejahteraan masyarakat daripada kepentingan pribadi. Mereka yang memegang jabatan publik dengan tanggung jawab tinggi dan berupaya memperbaiki kondisi negara tanpa mengharapkan imbalan lebih, dapat dianggap sebagai pahlawan sejati. Sebaliknya, apabila ada pejabat yang hanya bekerja demi kekuasaan atau keuntungan pribadi, maka mereka tidak pantas diberi label pahlawan meskipun memegang jabatan penting.
Kepahlawanan adalah Nilai yang Menyentuh Setiap Lapisan Masyarakat
Pahlawan di masa pasca kemerdekaan ini dapat ditemukan dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Semua aktivitas bernilai yang menginspirasi setiap individu untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa, adalah pahlawan. Meskipun hal itu dilakukan dalam wujud yang sederhana dan jauh dari sorotan media. Baik itu petani, buruh, guru, tenaga medis, petugas kebersihan, atau pejabat yang jujur, setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi pahlawan. Yang penting adalah mereka menjalankan perannya secara bertanggung jawab dan tulus demi kemaslahatan bersama.
Siapa pun yang mampu mengorbankan kepentingan pribadinya demi kebaikan orang lain, layak disebut sebagai pahlawan. Karena sejatinya, pahlawan adalah mereka yang dengan cara masing-masing, menabur kebaikan dan memberikan manfaat bagi sesama, baik dalam masa perang maupun di tengah damai. Setiap orang adalah pahlawan sesuai dengan kapasitas dan pengorbanan yang mereka berikan untuk kehidupan bangsa yang lebih baik.
(Makmur Sianipar)
