Ketika angka defisit membengkak, ia tidak hanya diam di dalam buku laporan Bendahara Negara. Ia berkelana, seperti bisikan di pasar-pasar yang ramai, menyentuh nilai tukar mata uang kita dan harga-harga di meja makan rakyat. Ada hukum alam yang tak terelakkan: ketika sebuah rumah tangga—bahkan rumah tangga sebesar negara—mengeluarkan lebih banyak dari yang ia terima, dunia akan mulai bertanya-tanya tentang kekuatan fondasinya.
Tekanan pada Urat Nadi Rupiah
Defisit sebesar Rp135,7 triliun ini menciptakan kebutuhan akan pembiayaan yang besar. Untuk menutup lubang tersebut, negara harus menerbitkan surat utang, mengundang para pemilik modal untuk meminjamkan kekayaannya. Namun, pasar adalah makhluk yang gelisah.
Lonjakan defisit dari 0,13% menjadi 0,53% terhadap PDB dalam setahun dapat memicu persepsi risiko yang lebih tinggi. Jika investor melihat ini sebagai tanda kerentanan fiskal, mereka mungkin akan meminta imbal hasil yang lebih tinggi atau, lebih buruk lagi, memindahkan modal mereka ke tempat yang lebih aman. Akibatnya, Rupiah bisa tertekan, bersandar lemah di hadapan dollar, yang pada akhirnya membuat barang-barang impor menjadi lebih mahal bagi kita semua.
Napas Inflasi yang Memburu
Ada pula soal inflasi, pencuri yang datang tanpa suara. Belanja negara yang agresif—terutama melalui belanja pemerintah pusat sebesar Rp346,1 triliun—menyuntikkan likuiditas ke dalam sistem ekonomi. Jika aliran uang ini tidak dibarengi dengan produktivitas yang setimpal di sisi penawaran, maka yang terjadi adalah pengejaran barang oleh uang yang terlalu banyak.
Menteri Purbaya Yudhi Sadewa mungkin melihat belanja ini sebagai investasi untuk masa depan, namun bagi rakyat kecil, dampaknya bisa terasa pada harga beras atau tarif listrik. Defisit yang besar sering kali menjadi bahan bakar bagi api inflasi, terutama jika pembiayaannya memberikan tekanan berlebih pada jumlah uang yang beredar. Kita sedang meniti seutas tali yang sangat tipis: membiayai pertumbuhan tanpa harus mencekik daya beli masyarakat dengan kenaikan harga.

